Sunday, 16 December 2012

#3 ANAK-ANAK TANJUNG BAHABA

Baru saja tiba di Kampung Teluk Alulu, sore harinya kami menyempatkan diri menemui kepala sekolah SD, mengkoordinasikan masalah pelaksanaan pesantren kilat untuk anak-anak SD selama tiga hari ke depan. Ya, pelaksanaan KKN bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi, pesantren kilat merupakan program yang sangat sinkron untuk dilaksanakan. Sasaran utama pesantren kilat adalah murid-murid SD mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.

Pak Yusia, kepala SD N 004 Maratua, menyambut baik program yang kami tawarkan selama kami berada di Kampung Teluk Alulu. Esoknya, kami datang ke sekolah, berdiskusi dulu dengan guru-guru, sekaligus perkenalan. “Kami datang untuk belajar” sebuah plang yang digantung di lorong sekolah menyambut kedatangan kami. Gedung satu lantai beratapkan seng dengan sebagian cat tembok mengelupas di sana-sini tampak sederhana sekali, tapi ada aura semangat di dalamnya.
 
Awalnya, kami ingin mengadakan buka bersama di akhir kegiatan pesantren kilat. “Sebaiknya siang saja kalau mau mengadakan acara, kalau sore nanti beberapa ada tak bisa pulang…,” Bu Dores, seorang guru di sana menyarankan. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa tidak bisa pulang?? “Mereka harus naik kapal biar bisa sampai rumah…,” beliau melanjutkan.

Kampung Teluk Alulu terbagi atas tiga wilayah administratif, yaitu RT 1, RT 2, dan RT 3.Wilayah RT 1 bersebelahan langsung dengan RT 2. Wilayah RT 3 sebenarnya juga bersebelahan dengan RT 2. Tapi, lebatnya hutan membuat kedua wilayah tersebut tak bisa ditembus dengan mudah. Solusinya, jalur laut, naik kapal. Oke, ke RT sebelah saja kita harus naik kapal. Amazing banget rasanya. Sebenarnya, sudah mulai dibangun jalan tembus antar RT juga sekaligus akan dibangun jalan tembus dengan kampung sebelah, namun entah kapan selesai. Katanya, masih ada beberapa masalah berkenaan dengan sengketa tanah. Mungkin setahun atau dua tahun lagi semua baru terselesaikan.

Anak-anak SD N 004 Maratua berasal dari tiga wilayah administratif tersebut, karena memang hanya ada satu SD di satu kampung. Mau tidak mau, anak-anak dari Tanjung Bahaba (sebutan untuk RT 3) harus rela menanti antar jemput kapal. Berangkat atau tidaknya mereka ke sekolah bergantung pada cuaca dan gelombang. Ketika mereka semua tidak berangkat ke sekolah, bisa dipastikan gelombang sedang tidak bersahabat pada kapal yang hendak berlayar membawa mereka ke sekolah.

Suatu hari, sepulang pesantren kilat, aku dan pasukan sub unit Teluk Alulu lainnya menghabiskan waktu di Dermaga Bandong, dermaga dimana kapal yang datang dari kampung sebelah atau dari RT sebelah ditambatkan. Kapal Tong Bahaba sudah tertambat di sana, menanti kedatangan anak-anak luar biasa dari Tanjung Bahaba pulang dari rumah belajar ke peraduannya. Beberapa anak sudah riuh rendah ribut ala anak kecil di dermaga, menanti beberapa teman yang lain.  Setelah hampir berduapuluh anak sudah menjadi satu dan siap pulang, nahkoda menjadi sibuk menyalakan mesin diesel dan menarik sauh. Anak-anak sibuk berlompatan ke atas kapal, macam spiderman berlompatan di atas gedung pencakar langit, tak menghiraukan tulisan “Jangan Lompat!!!” yang sudah susah payah ditempel di atap geladak. Ah, semoga semangat mereka untuk bersekolah tak pernah padam. Mereka, salah satu generasi hebat. Aku yakin.

bersama anak-anak
 

No comments:

Post a Comment